8 Fakta Menarik di Balik Layar Frank Underwood
Pada Mei 2015, Kansas City Star melaporkan bahwa Ketua DPR Missouri John Diehl, seorang politikus Partai Republik konservatif berusia 49 tahun yang punya istri dan tiga anak laki-laki serta mencalonkan diri dengan platform "nilai-nilai keluarga", terlibat dalam pertukaran pesan teks bernuansa seksual dengan seorang magang di DPR yang masih mahasiswa tahun pertama. Berbagai sumber juga melaporkan bahwa sang magang menyimpan nomor Diehl di daftar kontak ponselnya dengan nama "Frank Underwood".
Trailer musim ke-4, dengan Kevin Spacey berbicara langsung ke kamera dalam parodi siaran politik, ditutup dengan kalimat, 'Mereka bilang kita mendapat pemimpin yang pantas kita dapatkan. Menurutku Amerika pantas mendapatkan Frank Underwood. Dan di dalam hatimu, kau tahu aku benar.' Slogan kampanye presiden Barry Goldwater adalah 'In your heart, you know he's right.'
Pada Februari 2016, Smithsonian National Portrait Gallery di Washington, D.C., mulai memamerkan lukisan Kevin Spacey karya seniman Inggris Jonathan Yeo. Meski NPG sering memamerkan potret para aktor (juga tokoh-tokoh terkemuka Amerika lainnya), galeri ini juga terkenal karena potret para presiden AS dan menyebut dirinya sebagai "satu-satunya koleksi lengkap potret presiden di luar Gedung Putih di negeri ini." Sejalan dengan itu, sejumlah sumber (termasuk Vulture dan akun twitter resmi serial House of Cards maupun National Portrait Gallery) memberitakan potret baru ini seolah-olah itu benar-benar lukisan Presiden Frank Underwood, bukan aktor yang memerankannya.
Ia tumbuh dalam kondisi miskin, dengan ancaman bank menyita pertanian tempat mereka tinggal.
Pada musim gugur 1976 ia masuk The Sentinel, sekolah militer di Charleston, South Carolina, yang secara longgar didasarkan pada The Citadel, The Military College of South Carolina.
Ia lulus pada 1980 dan, meski nilainya buruk, diterima di Harvard Law School.
Selama di The Sentinel, ia menjalin hubungan homoseksual dengan teman sekamarnya, Tim Corbet (David Andrews), yang berlangsung hingga tahun pertama sekolah hukumnya.
Underwood dibesarkan sebagai Kristen dan di depan publik hanya basa-basi soal iman beragama, tetapi secara pribadi ia sama sekali memandang rendah Tuhan dan menganggap Kristen sebagai sumber kelemahan.
